Minggu, 02 Oktober 2016

Lebu dan Sinaba


Menatap megahnya bintang-bintang yang terurai.

Di hari lahir yang bercerai-berai.

Setetes susu tumpah ke dalam sungai.

Nila pun datang beramai-ramai.

Mata air mata tak berhenti berderai.

Sengsara membujuk perangai,

Melilitkan rantai pada tiang yang sedang bertikai.

Sadis-sadis mulai menyeringai.

senyum-senyum berakhir selesai.

Kedua tangan pun ikut melambai.

Menyapa mahligai yang tak sampai.

Dawai cinta sepasang keledai.

Di sebuah padang rumput yang permai.

Membelai hitam helai demi helai.

Abadi di tengah badai yang damai.

Kepada sosok yang disebut wahai.

izinkanlah kasih ini untuk terus terbuai.


walaupun pada nantinya karang-karang itu akan melerai,
deburan ombak mengecup bibir pantai.


Ku harap doa ini sampai.
Manifestasi Sang Khalifah

 Ihdinas siratal mustaqim. Tunjukanlah jalan yg lurus.
Selama ini kebatilan telah di dzalimi oleh adil karena hidup diselenggarakan untuk meminta cara sebaik-baiknya, sesuci-suci nya,seuntung-untungnya,sekuat-kuatnya, selebih-lebihnya, semanfaat nya dan sepraktis-praktisnya dalam menjalani kehidupan itu sendiri. 


Setan selalu dijadikan tumbal oleh manusia atas perbuatan manusia itu sendiri yang mereka sebut sebagai batil. Obsesi mengenai kehidupan yg sempurna, sudah menjadi candu yg memberi sensasi halusinasi kepada manusia, sampai dia mengigau didalam tidurnya menjadi malaikat. Nampak sudah niat yg tadinya diawali dengan husnudzon menjadi suudzon karena takut merugi. 

Akhlak digerogoti nafsu yg mengejar-ngejar pahala demi menyempurnakan obsesi manusia yg terakhir, yaitu surga. Tuhan dijadikan topeng kesempurnaan untuk menutupi kekurangan manusia, sampai-sampai Kesempurnaan telah menjadi tuhan diatas tuhan,karena hanya kesempurnaan saja yg bisa menyisihkan batil dan menyisakan adil. Padahal tuhan sebelumnya telah menghadirkan adil dan batil di dunia secara bersamaan.

Bagaikan uang setan yg dimakan oleh hantu, bagi mereka yang merasa disebut sebagai orang-orang yang terpilih. audzubillah himinas syaiton nirojim. Lindungilah aku dari godaan setan yg terkutuk.
Ku sampaikan pesan ini kepada Hidup dari ruh seorang Khalifah yg bergentayangan mencari jalan.

Aku Pulang

 

Ditengah riak hati yang sedang bergelombang.

Senggang mengajak mu berperang dengan menawan riang.

Dengan garangnya menang
terus menantang karang-karang pikiran, yang tak mau menjadi rumpang.

Sepanjang malam terang mengerang- ngerang.

Dibalik bayang-bayang kurang yang memandang.

Senang dihantui sebuah kandang sempit yg mengekang.

Lebih menuntut kaki untuk terus berpetualang.

Sampai lupa jalan pulang, kembali kepelukan tenang.

Kepadamu sayangku yg hilang, aku datang membawa pulang.

Kunang-Kunang 

Kunang-kunang

Kuasa terang sang hyang wenang

Lindungi malam dari kepungan gergasi hitam
 

Belalang

 

Menendang petang kembali ke kandang.

Menghadirkan senggang ditengah kalimat yang rumpang.

Sudah ku bilang, tak ada yang bisa melarang dan menghalang.

Para Belalang untuk berbincang.

 

Mein Hahn ist tot

 

 

Guten Morgen.
Morgen.
Willst du mit mir Versteckspiel spielen?
Ja, natürlich.
Es macht mir spaß.
Wer will?
Ich bin dran.
Zahlen bitte!
eins, zwei, drei, vier, fünf! fünf! fünf!
Fertig!
Wo bist du? Ich bin hier.
Ich sah, dass du da bist.
Wo bist du? Ich bin hier.
Wo bist du? Ich bin hier.
Kannst du mich hören?
Wo bist du? Ich bin hier.
Ich finde dich.
Willst du mit mir singen?
Mein Hahn ist tot
Mein Hahn ist tot
Mein Hahn ist tot
Mein Hahn ist tot
Er kann nicht mehr krähen
Er kann nicht mehr krähen
Er kann nicht mehr krähen
Kokokodi kokodi kokoda
kokodi...kokrokkkk...Du bist zu spät. kokokrookkkkkkkkkkk krok.........(Sing bitte lauter!) Kroookkkk. Kroookk krokkk. Alles gut? Noch einmal bitte!
Er kann nicht gut sehen
Er kann nicht gut sehen
Er kann nicht gut sehen
Holleri hollera
Holleri Haaaa! Aaaaaa! Haaaa! Haaaa! Noch einmal bitte!
Mein Hahn ist tot.
Mein Hahn ist tot. 

Schneller bitte!
MeinHahnMeinHahnMeinHahnMeinHahnMeinHahnMeinHahnM(ei)n(h)a(h)nMainan.
MAINAN Hahahahahaaaaa....
So ein schönes Leben!
Ich liebe euch alle

Subjek

Kalian   : Mereka siapa ?

Mereka  : Kalian Siapa ?

Kita       : Kami adalah Kita

Kami     : Kita adalah Kami

Kamu    : Apakah benar kamu yang bernama anda ?

Anda     : Ia benar, anda pasti bernama kamu.

 Aku       : Perkenalkan nama saya aku.

Saya      : Perkenalkan juga nama ku saya.

Dia        : Hey ! kalian mau kemana? Mereka baru saja pergi.Dipersimpangan Kita telah berpisah!

                Akhirnya Kami bercerai!

                Kamu kenapa ? 
                
               Tak apa. 
              
               Apakah ada yang salah dengan Anda?
               
               Salah Jalan sepertinya.
 
               Aku dimana? Aku......aku.....aku.....aku.

Aku       : Kamu, Anda, Dia, Kita, Kami, Kalian dan juga Mereka, tidak bisa mengisi aku!

Saya      : Karena hanya Saya yang bisa!
 
Semula

Semula air pun tak tau, mengapa dia harus mengalir untuk bersama.

Semula api pun tak tau, mengapa dia harus terbakar untuk bersama.

Semula tanah pun tak tau, mengapa dia harus terinjak untuk bersama.

Semula angin pun tak tau, mengapa dia harus berhembus untuk bersama.

Si  Mati pun tak tau, apalagi si Hidup!
 
Mabuk

Senja menurun kedalam kalbu.

Menghias sisa-sisa keabadian.

Melacur diantara pandangan dunia.

Meniduri waktu saking birahinya.

Angin pun mencair.

Mendekap Surya dalam hangatnya dingin.

Biaskan segala kecantikan.

Yang sebelumnya terhias menawan.

Menjadi sunyi ditengah luasnya awan.

Dalam malam sendu.

Menuai sebuah titik.

Yang menuju ke dalam suatu partikel.

Apa yang aku mau sekedar apa yang ku mau.

Apa yang aku butuh, tidak tau.

Aku dimabuk hasrat.




Anak Sapi Asmara

Rindunya akan dermaga dibiaskan samudera.

Dimana rumput berada.

Anak Sapi menjamah makna. 

Pemamah biak tak akan lewat kan serpihan rasa.

Dengan gelap, cahaya dapat ditangkap mata.

Liarnya berbeda dia sapi bukan kuda.

Namun dia bukan Anak Sapi biasa. 

Dia Anak Sapi Asmara.

Tak bertuan ada singgahsana sang raja.

Juga tak bertuhan pada siapa pemiliknya.

Mirabilis Jalapa milik cinta Bumi, Rembulan dan Surya.

Bermekaran di terang senja.

Semu tak membuatnya jera pada percik pesona.

Cerita yang berulangkali dibaca.

Namun tak puas hati juga rasanya.
 
Murni

Mendaki waktu yang terus berlari.

Tak beranjak pergi dari duniawi.

Tak kunjung kembali dari surgawi.

Sejati mencari.

Ruhnya bergentayangan kesana-kesini.

Sejak lahir sampai dipendam bumi.

Sejati di hantui seutas tali.

Matanya mati berdiri, meratapi nurani yang memilih gantung diri.

Sejati hilang kendali.

Merisak kepada sendiri.

Sambil menyeret patahan hati.

Suaranya memekik sepi.

Murni! Murni! Murni!

Dimana kau Murni?

Jawab tanya ku Murni!

Apakah kau sudah dibeli oleh Bumi dengan janji-janji untuk hidup di daratan peri ?

Karena itu kah kau tega membunuh nurani demi segelas susu sapi dengan label murni ? 

Tertawa lah Murni.

Meski kau bersembunyi di sisi ilahi, ada sepasang kaki yang sedang mencari!

- Sejati
 

Sabtu, 01 Oktober 2016

Ayah dan Ibu Alat Reproduksi Tuhan


Ar Rahiim, yang maha penyayang.

Dia datang kepada ku dan kepada mu supaya diriku dan juga diri mu menjadi anak-anaknya yang terang.  

Dalam nama budi. Sang hyang wenang, kuasa atas setiap kebahagiaan semua mahluk hidup yang mengajari benci untuk bermurah hati.

Az Zahiir, maha nyata rasa percaya yang membekali sepasang mata untuk saling memandang di dalam keruhnya bening. 

Om yang tidak memiliki arti, kepada diri mu lah aku memohon perlindungan dan tuntunan.

Bimbing lah si goblok ini! yang sedang mencari diri di dalam kenisbian ini.

Terimakasih karena sudah mempercayakan hidup kepada diri ku yang sebelumnya tidak pernah lahir dan mati.

Ku sampaikan pesan ini kepada Ayah dan Ibu dari mahluk mu yang semula belum kau jadi kan sebagai mahluk.